KOKI - Kalkulator Online Kinerja Ilmiah
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
  » halaman depan Rabu, 23 Agustus 2017  
MENGENAI MODEL SFPM

Halaman ini menjelaskan secara singkat mengenai Model SFPM (Scientific and Financial Performance Measure) dan pemakaiannya [1]. Anda juga bisa mempelajari detailnya melalui naskah lengkap yang tersedia di arXiv:physics/0508052.

  1. Pendahuluan

    Manajemen merupakan sisi penting dalam seluruh aspek kehidupan manusia dan aktifitasnya, termasuk aneka kegiatan ilmiah. Manajemen sebagai pelaksana regulasi dan sekaligus regulator membutuhkan aneka perangkat untuk mengimplementasikan aneka regulasi yang ada. Regulasi diciptakan sebagai norma dan komitmen yang mengikat setiap sivitas (individu dan institusi) terkait untuk menciptakan hubungan yang sehat antar sivitas. Hubungan yang sehat ini merupakan syarat mutlak untuk merealisasikan tujuan-tujuan setiap sivitas di dalamnya, serta mendorong terjadinya sinergi antar sivitas.

    Dalam konteks kegiatan ilmiah, manajemen ilmiah juga memegang peranan yang sangat penting, bahkan jauh lebih penting daripada fungsi manajemen pada kegiatan non-ilmiah (birokrasi, ekonomi, dsb). Hal ini terkait terutama dengan sifat alami kegiatan ilmiah yang berbasis individu dengan otonomi yang tinggi. Sebab otonomi dan kebebasan ilmiah merupakan syarat mutlak dalam setiap kegiatan ilmiah. Dilain pihak tanggung-jawab publik, sebagai konsekuensi pemakaian dana publik untuk setiap kegiatan ilmiah, menuntut sivitas dan kegiatan ilmiahnya harus bisa dipertanggung-jawabkan secara transparan. Namun kenyataan menunjukkan, pada sebagian besar kegiatan ilmiah pertanggung-jawaban publik yang bersifat universal, mudah dipahami dan obyektif sangat sulit dilakukan. Hal ini lebih disebabkan oleh sifat alami kegiatan ilmiah yang proses kegiatannya sulit diprediksi dan tidak selalu kasat mata. Meski demikian, berbeda dengan kegiatan non-ilmiah pada umumnya, kegiatan ilmiah memiliki luaran yang jelas dan dengan mudah bisa diukur secara obyektif pada suatu kurun waktu tertentu.

    Untuk itu diperlukan suatu perangkat khusus untuk mengukur kinerja ilmiah berbasis luaran ilmiah, karena hanya bagian inilah yang bisa diukur secara transparan dan obyektif. Lebih jauh pengukuran kinerja tidak hanya berkutat pada aspek kinerja ilmiah dan potensi ekonomi jangka panjang. Selama ini justifikasi kegiatan ilmiah lebih dititik beratkan pada aspek potensi ekonomi dengan metode analisa cost-benefit [2]. Sebaliknya aspek kinerja ilmiah diukur secara normatif berbasis luaran ilmiah. Metode ini notabene memisahkan aspek ilmiah serta finansial dari suatu kegiatan ilmiah, padahal hakekatnya kedua aspek tersebut saling berkaitan erat dan merupakan satu kesatuan. Terlebih metode analisa cost-benefit pada prakteknya sulit diukur obyektifitasnya karena memakai acuan yang absurd serta tidak lebih dari potensi yang belum tentu bisa terealisir.

    Dikenal juga metode yang lebih lengkap, yaitu scientific and technical human capital (STHC) [3] yang melibatkan aneka aspek. Meski terkesan ideal, model STHC sangat rumit dan akhirnya banyak parameter subyektif yang diakomodasi, sehingga mengurangi akurasi serta legitimasinya sebagai alat pengukur kinerja yang mudah, transparan dan obyektif.

  2. Kerangka teori

    Dari pemaparan diatas, jelas bahwa selama dalam lingkup kegiatan ilmiah sudah seharusnya kinerja hanya diukur berbasis pencapaian luaran ilmiah, tanpa melihat proses di dalamnya. Sebaliknya justru alasan ini yang menjadikan kegiatan ilmiah relatif mudah diukur dan dikuantisasi. Dimotivasi oleh kenyataan ini, maka kami mengusulkan alat pengukur alternatif, yaitu Model KOKI [4].

    Seperti disebut diatas, asumsi pertama dalam membangun model ini adalah pengukuran hanya berbasis luaran ilmiah tanpa melihat proses di dalamnya. Luaran ilmiah sendiri didefinisikan sebagai : luaran suatu kegiatan ilmiah yang sudah diakui oleh pihak ketiga independen dalam bentuk dokumen ilmiah maupun kegiatan riil terkait lainnya.

    Asumsi kedua, metode pengukuran dilakukan setelah lewat tahun anggaran dengan melihat seluruh luaran akademik pada tahun anggaran terakhir. Dengan kata lain metode ini berbasis evaluasi tahunan per-tahun anggaran.

    Asumsi berikutnya adalah setiap luaran ilmiah diurutkan berdasarkan tingkat kesulitan pencapaian serta diberi poin berdasar muatan ilmiah. Nomor urut (NO) seluruh luaran ilmiah yang relevan harus berurutan, tidak boleh melompat dan ganda. Sebaliknya poin ilmiah (SP) bisa sama dengan satu atau lebih luaran ilmiah lain yang berurutan, namun harus lebih kecil (besar) dibandingkan dengan luaran ilmiah dengan poin ilmiah yang berbeda diatas (dibawah)-nya. Penentuan urutan dan poin luaran ilmiah bisa berbeda antara bidang yang satu dengan yang lain.

    Berikutnya, juga diasumsikan adanya parameter poin ilmiah maksimal (PM), tingkat penurunan poin ilmiah (PD, dalam persen) dan batas poin ilmiah total per-peneliti (PT). Ketiga parameter ini sama untuk semua bidang. Dengan metode ini perbandingan dan evaluasi secara universal antar bidang keilmuan yang berbeda dimungkinkan. Perlu ditekankan bahwa besaran mutlak poin ilmiah tidak penting, karena ini hanya menunjukkan skala perbedaan antara luaran ilmiah yang satu dengan yang lain. Dengan penentuan poin ilmiah maksimal dan tingkat penurunannya, akan didapat himpunan poin ilmiah yang bisa diberikan untuk setiap jenis luaran ilmiah seperti berikut :
    SP = { PM , PD x PM , (PD)2 x PM , ... , (PD)nO-1 x PM , (PD)nO x PM } , (1)

    dimana nO adalah jumlah luaran ilmiah yang relevan untuk suatu bidang. Ditinjau dari syarat kewajaran, sangat relevan untuk memberikan batasan nilai dari parameter diatas sebagai berikut :
    SP minimal > 1 , (2)
    PM , PT > 100 , (3)
    90 < PD < 50 (persen). (4)

    Aspek ekonomi terkait dengan kinerja finansial direpresentasikan dengan parameter koefisien ekonomi (CE) yang juga berlaku untuk semua bidang keilmuan. Parameter ini cukup ditentukan di awal, dan bisa dibuat berubah secara otomatis mengikuti kondisi makro ekonomi kawasan (inflasi, pertumbuhan ekonomi, nilai tukar mata uang, dll).

    Akhirnya, berdasarkan aneka asumsi diatas rasio dari Kinerja Ilmiah (SP) dan Kinerja Finansial (FP) dirumuskan dalam formula dibawah. Dari rumus dibawah jelas bahwa FP terkait langsung dengan poin dan urutan ilmiah dari setiap luaran ilmiah.


    (5)

  3. Aplikasi

    Ditinjau dari aspek manajemen ilmiah, dalam metode berbasis Model KOKI dipersyaratkan regulasi di dua level manajemen untuk menentukan seluruh parameter yang telah diperkenalkan diatas. Yaitu :

    • Birokrasi pemerintahan yang berwenang menangani kegiatan ilmiah.
      Manajemen pada level ini diperlukan untuk menentukan nilai parameter global yang berlaku untuk semua bidang kegiatan ilmiah, yakni : PM, PD, PT dan CE.
    • Komunitas ilmiah terkait.
      Komunitas ilmiah suatu bidang keilmuan diperlukan untuk menentukan urutan serta besaran poin ilmiah dari setiap luaran ilmiah yang relevan. Karena parameter-parameter ini spesifik untuk suatu bidang keilmuan tertentu.

    Segera setelah penentuan seluruh parameter, sistem siap dipakai untuk evaluasi kegiatan ilmiah terdahulu maupun pengambilan keputusan untuk kegiatan ilmiah mendatang. Sebagai contoh bisa dipakai sarana simulasi online [5].

  4. Kesimpulan dan diskusi

    Dengan formulasi di Model SFPM, dirumuskan kaitan antara kinerja ilmiah dan finansial secara simultan dengan hanya berbasis pencapaian luaran ilmiah. Beberapa keuntungan pemakaian alat pengukur berbasis Model SFPM antara lain :

    • Karena hanya berbasis luaran ilmiah, obyektifitas dan transparansi pengukuran bisa dijamin.
    • Metode berbasis per-tahun anggaran mempermudah proses evaluasi dan pengambilan keputusan untuk tahun anggaran mendatang karena mencerminkan kondisi riil saat ini.
    • Kompilasi evaluasi tahunan dari setiap sivitas bisa dipakai sebagai alternatif penentuan kompensasi yang berbasis evaluasi jangka panjang. Contoh : distribusi dan alokasi sumber daya manusia maupun dana ke setiap kelompok atau institusi.
    • Alat yang sama bisa dipakai untuk menilai kelayakan proposal sesuai dengan target yang dijanjikan.
    • Hasil konversi finansial bisa dipakai sebagai standar penentuan anggaran yang disetujui untuk setiap sivitas dan kegiatan ilmiahnya.

    Impelementasi alat pengukuran KOKI secara konsisten dan berkesinambungan untuk setiap individu, kegiatan ilmiah dan institusi dalam jangka panjang bisa memberikan indikator kinerja di setiap level. Ini berpotensi membantu mencari akar permasalahan dari problem terkait bidang keilmuan dalam skala regional maupun nasional. Bila dikombinasikan dengan sistem kompensasi yang ketat akan mendorong peningkatan kinerja ilmiah secara keseluruhan.

    Parameter-parameter yang diperkenalkan diatas sebagian besar tidak bersifat mutlak dan hanya untuk menunjukkan skala, sehingga penentuannya tidak terlalu membutuhkan kajian yang mendalam. Meski demikian masih diperlukan kajian lebih lanjut untuk menentukan beberapa parameter spesifik, khususnya yang bersifat mutlak dan mengikat seperti tingkat penurunan poin ilmiah (PD) dan batas poin ilmiah total per-peneliti (PT). Parameter PT bisa ditentukan secara komprehensif, misalnya dengan mengambil rata-rata luaran ilmiah dari para peneliti secara global melalui database lokal maupun global yang telah ada. Selanjutnya hasil ini bisa dipakai untuk menentukan rata-rata parameter PD yang sesuai. Untuk itu kajian lebih lanjut dengan memanfaatkan aneka database luaran ilmiah yang telah ada sangat direkomendasikan.

    Referensi :
    1. L.T. Handoko, Proceeding of the 7th ASEAN Science and Technology Week - Sub-Committee of Science and Technology Infrastructure and Resources Development, Jakarta (2005); arXiv:physics/0508059.
    2. B. Bozeman dan J. Melkers, Evaluating R&D impacts: Methods and practice, Boston, Kluwer Academic Publishers (1993);
      R. Kostoff, H. Averch dan D. Chubin, Evaluation Review 18 (1994) 3.
    3. G. Becker, Journal of Political Economics 70 (1962) S9;
      T. W. Schultz, The economic value of education, New York, Columbia University Press (1963);
      M. Polanyi, The tacit dimension, London, Cox & Wyman (1967);
      M. Polanyi, The logic of tacit inference : Knowing and being, London, Routledge & Kegan Paul (1969);
      B. Bozeman, Policy Studies Journal 14 (1986) 519;
      P. Bourdieu, Handbook of theory and research for the sociology of education New York, Greenwood (1986);
      P. Bourdieu dan L. Wacquant, An invitation to reflexive sociology, Chicago, University of Chicago Press (1992);
      J. C. Coleman, American Journal of Sociology 94 (1988) S95;
      J. C. Coleman, Foundations of social theory, Cambridge, The Belknap Press of Harvard University Press (1990).
    4. L.T. Handoko, Journal of Engineering and Technology Management (2005) under submission.
    5. OCSP - Online Calculator for Scientific Performance, http://www.koki.lipi.go.id (2005).

PERHATIAN : Sistem ini hanya ditujukan untuk tujuan simulasi ilmiah. LIPI tidak bertanggung-jawab atas isi dan segala akibat yang ditimbulkan dari situs ini.

Copyright © 2004-2017 LIPI, All Rights Reserved